BRIDA Sebagai Penggerak Inovasi Daerah untuk Mewujudkan Asta Cita
Jakarta-Humas BRIN. Dalam upaya mendorong pembangunan berbasis riset dan inovasi, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) diharapkan dapat berperan sebagai hub kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, industri, dan masyarakat. Hal ini menjadi perhatian utama dalam webinar BRIDA Optimal Menggapai Asta Cita yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis (27/02). Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, menegaskan bahwa BRIDA memiliki peran strategis dalam mewujudkan delapan cita-cita pembangunan nasional (Asta Cita), terutama dalam mendorong hilirisasi hasil riset untuk meningkatkan perekonomian daerah.
“Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah melakukan pendampingan terhadap pemerintah daerah (pemda) melalui BRIDA,” kata Yopi Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RID) BRIN.
BRIDA/BAPPERIDA sebagai institusi yang bertugas dalam mendukung pembangunan daerah, jelas memegang peran krusial dalam mewujudkan misi pembangunan nasional. Khususnya dalam mendukung asta cita yang menjadi prioritas presiden.
Melalui kolaborasi, Yopi berharap BRIDA semakin optimal mendorong hilirisasi iptek yaitu proses transformasi hasil riset dan inovasi, menjadi solusi nyata yang dapat diterapkan di daerah.
“Kami menekankan peran strategis BRIDA dalam mendukung asta cita antara lain mendorong inovasi berbasis daerah. BRIDA perlu menjadi wadah untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan daerah, serta mendorong inovasi yang sesuai dengan karakteristik sumber daya lokal,” jelasnya.
Berikutnya, tambah Yopi, hilirisasi iptek, BRIDA perlu memastikan hasil riset inovasi tidak hanya terhenti di laboratorium saja, tetapi juga perlu diimplementasikan untuk memecahkan solusi daerah. Di samping itu juga peningkatan produktivitas sektor pertanian, pengelolaan SDA, pengembangan industri kreatif, dan sebagainya.
“Selanjutnya, meningkatkan ekonomi daerah melalui pendekatan berbasis bukti atau evidence based policy. BRIDA perlu membantu merumuskan kebijakan dan program yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah” ungkapnya.
Untuk itulah, ujar Yopi, BRIDA perlu berperan sebagai mitra strategis nasional, memastikan bahwa pembangunan di level pemerintah daerah selaras dengan pembangunan di level pemerintah pusat.
“Kami berharap melalui diskusi kali ini bisa menghasilkan rekomendasi atau langkah konkret yang dapat diimplementasikan oleh bapak ibu sekalian di daerahnya masing-masing. Mari kita jadikan BRIDA sebagai garda terdepan dalam mewujudkan pembangunan daerah yang inovatif, berkelanjutan, dan berkeadilan,” tuturnya.
Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN Wiwiek Joelijani menyatakan, menurut Asta cita ada 8 program.
“Asta cita yang terkait dengan BRIDA dan bahan pembahasan webinar hari ini adalah mengenai penguatan kualitas SDM iptek di daerah, peningkatan ekonomi daerah, dan hilirisasi pemanfaatan hasil iptek. Apabila kita bicara hilirisasi kita harus melihat kesiapan dari sisi hulu yaitu hasil iptek maupun riset dan inovasi yang siap dimanfaatkan oleh masyarakat maupun industri di daerah,” ungkap Wiwiek.
Dia menerangkan, peran pemda sangat kunci sebagai regulator di tingkat daerah, yang punya kewenangan membuat kebijakan untuk menghasilkan tata kelola iptek, riset dan inovasi yang memperkuat ekosistem riset dan inovasi di daerah. Ekosistem riset dan inovasi yang kuat adalah ekosistem yang mendorong tumbuhnya kebijakan Pembangunan berbasis riset dan inovasi
“Satu unsur penting dalam ekosistem adalah kelembagaan riset dan inovasi yang mengelola riset dan inovasi. Sesuai dengan Perpres 78 tahun 2021 bahwa tata kelola riset dan inovasi di daerah di lakukan oleh BRIDA yang merupakan lembaga strategis yang akan mendukung capaian sasaran pembangunan baik dari sisi perencanaan kebijakan berbasis riset dan inovasi,” urainya.
Dia menjelaskan, topik ini sangat strategis karena sudah tertuang di dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional, dengan terbitnya Peraturan Presiden nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN. Di dalam RPJMN secara implisit menyebutkan peran BRIDA menjalankan tugas fungsi secara optimal, dengan berlandaskan riset dan inovasi untuk mendukung tercapainya sasaran pembangunan.
“Tantangan hilirisasi antara lain adalah rendahnya pemanfaatan hasil iptek, riset, dan inovasi baik oleh masyarakat maupun industri. Hilirisasi adalah link and match mempertemukan supply hasil riset dan inovasi dengan demand yang menggunakan hasil riset dan inovasi.
Menurutnya, hambatan inilah yang menjadi peran kebijakan untuk mendorong hasil risetnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Di situlah peran BRIDA yang sangat strategis bisa memberi rekomendasi kebijakan kepada kepala daerah, dan mengkoordinasikan pemanfaatan hasil riset dan inovasi hingga menghasilkan impak. Peran BRIDA yang juga penting adalah memantau pelaksanaan program hingga menghasilkan impak. Strategi ini yang perlu dibangun dengan kebijakan berbasis bukti,” ucapnya.
Lebih jauh Wiwik juga memaparkan tentang tiga peran penting BRIDA yaitu memperkuat perencanaan pembangunan daerah, menjadi orkestrator dalam pengembangan ekosistem riset, dan inovasi daerah. Menyusun rencana induk dan peta jalan pemajuan iptek di daerah.
“Untuk strategi BRIDA optimal kita harus memperkuat kapasitas SDM iptek di daerah, bagaimana kolaborasi multi pihak, bagaimana hilirisasi pemanfaatan iptek. Bagaimana pula untuk meningkatkan ekonomi daerah dan mendukung berhasilnya Pembangunan berkelanjutan. Hasil survey kepada pengguna hasil riset, menyebutkan bahwa hambatan terbesar pemanfaatan adalah kebijakan. Di sini pentingnya peran BRIDA dalam menghasilkan kajian berbasis bukti sebagai dasar penyusunan kebijakan pemrintah daerah.” urainya.
Lebih lanjut Wiwiek menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring kolaborasi, menjalin kemitraan dengan lebih banyak pihak, termasuk swasta dan lembaga internasional. Disamping itu edukasi dan sosialisasi juga harus terus menerus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya iptek, evaluasi berkelanjutan, memastikan setiap program memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.
“Skema fasilitasi BRIN juga perlu disosialisasikan terus menerus ke daerah, agar dapat dioptimalkan pemanfaatannya sesuai dengan kebutuhan di daerah. Peran optimal BRIDA akan menggiring kepada pemanfaatan hasil iptek, riset dan inovasi yang pada akhirnya akan memberi impak tidak hanya kepada masyarakat dan daerah tapi juga kepada periset baik di BRIN maupun di perguruan tinggi dan juga di industri,“ pungkas Wiwiek.
Andri Mardiah, pembicara Kementerian PAN/ Bappenas, menyampaikan bahwa daalam konteks Pembangunan daerah berbasis iptek dan inovasi dapat dilakukan secara kolaboratif dengan dasar hukum RPJM dan arah transformasi ekonomi. Upaya mendorong ini adalah melalui hilirisasi inovasi.
Fitriansyah, dari Pemda Kalimantan Timur sebagai penerima Apresiasi BRIDA tahun 2024, mencontohkan peran koordinasi BRIDA di bidang pangan dan energi. Dia membagikan pengalaman daerahnya dalam menggalang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk BRIN, perguruan tinggi, dan industri. “Kami telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengatasi isu-isu daerah, seperti stunting dan pengembangan potensi unggulan daerah,” ujar Fitriansyah.
Fitriansyah juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas SDM Iptek di daerah. “Kami kekurangan periset, sehingga kami berupaya mendidik generasi muda untuk menjadi periset di masa depan,” pungkasnya. (ns, ww/ed. pur)